Daftar Isi

PEKANBARU,Lancangkuning.com- Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap kembali menjadi persoalan serius di Provinsi Riau. Dampaknya tidak hanya mengancam lingkungan, tetapi juga kesehatan masyarakat, pendidikan, pertanian, aktivitas ekonomi, hingga keberlanjutan kehidupan masyarakat.
Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Pengda KAGAMA) Riau menilai kondisi tersebut membutuhkan respons cepat sekaligus penanganan akar persoalan secara berkelanjutan.
Ketua Pengda KAGAMA Riau, Dr Arifudin, mengatakan penurunan kualitas udara di sejumlah wilayah Riau perlu menjadi perhatian serius. Kondisi tersebut menuntut perlindungan terhadap masyarakat, terutama kelompok rentan, serta penyesuaian aktivitas pendidikan.
“Kondisi kemarau yang diperkuat oleh El Niño meningkatkan risiko karhutla. Pada ekosistem gambut, kondisi yang sangat kering menyebabkan api mudah berkembang dan dapat terus menyala di bawah permukaan meskipun secara kasatmata terlihat telah padam,” katanya.
Menurut Arifudin, persoalan karhutla di Riau memiliki keterkaitan erat dengan kondisi ekosistem gambut. Karena itu, penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah membesar.
Ia menilai pemerintah perlu memperkuat upaya pemulihan gambut yang terdegradasi dan kehilangan air. Restorasi gambut harus menjadi bagian penting dari strategi pencegahan karhutla dalam jangka panjang.
“Restorasi gambut melalui pembasahan kembali (rewetting), pemulihan vegetasi (revegetation), dan revitalisasi sumber penghidupan masyarakat (revitalization) perlu diperkuat dan diperluas sebagai strategi jangka panjang,” ujarnya.
Arifudin mengatakan restorasi juga harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, upaya menjaga ekosistem gambut dapat memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan rawan karhutla.
Perkuat Respons di Lapangan
KAGAMA Riau merekomendasikan pemerintah memperkuat tim lapangan untuk memastikan setiap titik panas segera diverifikasi. Langkah tersebut penting agar potensi kebakaran dapat ditangani sebelum berkembang menjadi karhutla yang lebih luas.
Khusus di kawasan gambut, pemadaman harus dilakukan secara tuntas. Pembasahan yang memadai diperlukan karena api dapat tetap menyala di bawah permukaan gambut.
“Perlu diperkuat personel pemadam kebakaran melalui pengerahan sumber daya manusia terlatih dan dukungan logistik bagi petugas lapangan,” kata Arifudin.
Selain itu, pemerintah didorong mengoptimalkan sumber air terdekat dengan lokasi kebakaran gambut. Dukungan alat berat juga diperlukan untuk membuka akses menuju lokasi yang sulit dijangkau petugas.
Langkah tersebut dinilai penting mengingat karakteristik gambut membuat penanganan kebakaran membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan kebakaran di lahan mineral.
Perlindungan Kesehatan Masyarakat
KAGAMA Riau juga menyoroti pentingnya keterbukaan informasi mengenai kualitas udara. Pemerintah diminta menyampaikan informasi secara berkala dengan bahasa yang mudah dipahami masyarakat.
Informasi tersebut perlu disertai panduan aktivitas sesuai tingkat kualitas udara. Masyarakat juga perlu mengetahui kapan aktivitas di luar ruangan harus dikurangi atau dihentikan.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapatkan perhatian khusus ketika kualitas udara memburuk.
Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker yang sesuai dan terpasang dengan baik ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Kecukupan cairan dan kondisi kesehatan juga perlu dijaga.
Di sisi layanan kesehatan, pemerintah diminta memastikan kesiapsiagaan puskesmas, rumah sakit, tenaga kesehatan, obat-obatan, serta layanan medis. Kesiapan tersebut diperlukan untuk mengantisipasi peningkatan gangguan kesehatan akibat kabut asap.
Pemerintah bersama fasilitas kesehatan juga perlu memperkuat edukasi mengenai gejala yang harus diwaspadai masyarakat.
“Masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, gangguan pernapasan yang memburuk, atau keluhan kesehatan serius lainnya,” ujar Arifudin.
Sekolah Diminta Menyesuaikan Aktivitas
Dampak kabut asap juga perlu menjadi pertimbangan dalam penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Sekolah dan perguruan tinggi didorong menyesuaikan kegiatan belajar dengan kondisi kualitas udara.
Penyesuaian juga mencakup kegiatan olahraga dan aktivitas luar ruangan. Keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat.
KAGAMA Riau menilai keputusan mengenai aktivitas pendidikan perlu mempertimbangkan informasi kualitas udara dan aspek kesehatan. Langkah tersebut menjadi bagian dari perlindungan masyarakat selama periode rawan karhutla.
Restorasi Gambut Harus Diperluas
Dalam jangka panjang, pemerintah diminta memperkuat dan memperluas restorasi gambut, terutama di wilayah yang terdegradasi dan memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
Pengelolaan tata air dan pembasahan kembali gambut perlu menjadi bagian utama strategi pencegahan. Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan pemadaman setelah kebakaran terjadi.
KAGAMA Riau juga mendorong masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama dalam menjaga ekosistem gambut. Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui pertanian tanpa bakar, paludikultur, agroforestri, serta penguatan kelembagaan masyarakat.
Pengembangan usaha dan mata pencaharian yang sesuai dengan karakteristik gambut juga dinilai penting. Masyarakat harus memperoleh manfaat ekonomi dari upaya menjaga ekosistem tersebut.
“Menjaga gambut harus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” kata Arifudin.
Dengan pendekatan tersebut, penanganan karhutla di Riau diharapkan tidak berhenti pada operasi pemadaman. Pencegahan, pemulihan ekosistem, perlindungan kesehatan, serta penguatan ekonomi masyarakat perlu berjalan secara bersamaan.
Bagi Riau yang memiliki kawasan gambut luas dan menghadapi risiko kebakaran berulang, strategi tersebut menjadi penting untuk mengurangi dampak karhutla sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan dan kehidupan masyarakat.







Komentar