Daftar Isi

LANCANGKUNING.COM,Pekanbaru-Dewan Pimpinan Wilayah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Riau bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menggelar Workshop dan Kunjungan Pabrik Pupuk Organik Sawit pada 18–19 Juni 2026. Kegiatan ini bertujuan memperkuat ketahanan petani sawit dalam menghadapi tingginya biaya produksi, khususnya akibat kenaikan harga pupuk kimia, sekaligus mendorong terwujudnya konsep “Sawit Ramah Lingkungan dan Nihil Limbah (Zero Waste)” serta pengembangan ekonomi hijau berbasis sawit.
Workshop dihadiri Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriadi, Kepala Divisi UKMK BPDP Helmi Muhansyah mewakili Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman, Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Gulat Medali Emas Manurung, Ketua DPW APKASINDO Riau K.H. Suher, akademisi, pelaku usaha, serta petani sawit dari berbagai kabupaten dan kota di Riau.
Ketua DPW APKASINDO Riau, K.H. Suher, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari keresahan petani terhadap lonjakan harga pupuk dan fluktuasi harga tandan buah segar (TBS). Menurutnya, petani membutuhkan solusi nyata untuk menekan biaya produksi tanpa mengurangi produktivitas kebun.
“Kami ingin petani memperoleh alternatif yang mampu menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan keuntungan. Ketergantungan terhadap pupuk kimia perlu dikurangi melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar kebun,” ujarnya.
Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Gulat Medali Emas Manurung, menegaskan bahwa pelatihan pembuatan pupuk organik memiliki nilai strategis bagi petani sawit. Kenaikan harga pupuk yang mencapai hampir 60 persen dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan beban biaya usaha perkebunan rakyat.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Riau, Supriadi, menilai pemanfaatan tandan kosong dan produk sampingan sawit sebagai pupuk organik merupakan langkah tepat untuk meningkatkan efisiensi usaha perkebunan. Ia menyebut biaya pemupukan saat ini mencapai 20–25 persen dari total biaya budidaya.
Pada hari kedua, peserta melakukan kunjungan lapangan ke pabrik pupuk organik milik PT Arthasiddhi Sukses Anugerah di Kampar Kiri. Direktur Utama perusahaan, Kevin Ananta, menjelaskan bahwa pupuk organik UPU Ultra Strong diproduksi dari tandan kosong kelapa sawit (TKKS), decanter solid, abu janjang, dan biochar yang diolah melalui proses fermentasi dan pirolisis.
Menurut Kevin, pupuk organik tidak dimaksudkan menggantikan pupuk kimia sepenuhnya, melainkan meningkatkan kesehatan tanah agar penyerapan unsur hara menjadi lebih optimal. Dengan kombinasi pupuk organik dan pupuk kimia, biaya pemupukan berpotensi ditekan hingga 50 persen.
Melalui kegiatan ini, APKASINDO Riau dan BPDP berharap semakin banyak petani menerapkan praktik perkebunan berkelanjutan berbasis pemanfaatan produk sampingan sawit. Selain mengurangi biaya produksi, langkah tersebut juga mendukung terwujudnya industri sawit yang lebih produktif, berdaya saing, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.(rie)







Komentar