Daftar Isi

LANCANGKUNING.COM,Jakarta- Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah fasilitas ladang gas South Pars milik Iran di Teluk Persia dilaporkan diserang dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel. Insiden tersebut memicu kebakaran di area strategis energi Iran dan memancing respons militer dari Teheran.
Media pemerintah Iran, mengutip pejabat setempat, menyebut serangan terjadi di Zona Ekonomi Khusus Energi South Pars di Asaluyeh, Provinsi Bushehr. Wakil gubernur setempat, Ehsan Jahanian, mengatakan fasilitas gas tersebut terkena proyektil yang ditembakkan oleh pihak yang disebutnya sebagai “musuh Amerika-Zionis”.
South Pars merupakan bagian Iran dari ladang gas terbesar di dunia yang berbagi wilayah dengan Qatar, yang menyebut bagiannya sebagai North Dome. Cadangan raksasa ini diperkirakan menyimpan sekitar 1.800 triliun kaki kubik gas, menjadikannya salah satu sumber energi paling vital secara global. Bagi Iran, ladang ini menyuplai sebagian besar kebutuhan gas domestik.
Di tengah eskalasi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku tidak mengetahui adanya serangan tersebut. Dalam pernyataannya, ia justru mengkritik langkah Israel dan memperingatkan Iran agar tidak memperluas konflik.
Trump juga melontarkan ancaman keras bahwa Amerika Serikat dapat menghancurkan seluruh fasilitas South Pars jika Iran terus menyerang target di negara lain, khususnya di kawasan Teluk.
Situasi semakin memanas setelah Iran melancarkan serangan balasan ke sejumlah fasilitas energi di kawasan, termasuk di Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA). Di Qatar, kebakaran dilaporkan terjadi di Kota Industri Ras Laffan yang merupakan pusat pengolahan gas alam cair (LNG).
Kementerian Dalam Negeri Qatar menyatakan tim pertahanan sipil telah dikerahkan untuk mengendalikan api. Tidak ada korban jiwa dilaporkan, meski sejumlah fasilitas mengalami kerusakan. QatarEnergy juga mengonfirmasi adanya dampak signifikan, termasuk pada fasilitas Pearl GTL.
Pemerintah Qatar mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional karena menyasar infrastruktur sipil dan vital.
Sementara itu, Uni Emirat Arab turut melaporkan serangan yang menargetkan fasilitas energi di Habshan dan ladang minyak Bab. Otoritas setempat menyebut sistem pertahanan udara berhasil mencegat serangan tersebut, sehingga tidak menimbulkan korban.
UEA menilai serangan terhadap infrastruktur energi sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan dan pasar energi global. Negara itu juga menegaskan haknya untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan demi menjaga keamanan nasional.
Rangkaian serangan dan aksi balasan ini memperlihatkan meningkatnya risiko konflik terbuka di kawasan Teluk, yang selama ini menjadi pusat produksi energi dunia. Situasi tersebut dikhawatirkan dapat berdampak luas terhadap stabilitas geopolitik dan pasokan energi global.(Antara/rie)







Komentar