Ekoteologi Ramadan di Masjid Raya An Nur: Muliardi Ajak Umat Jadi Khalifah yang Menjaga Bumi

Daftar Isi


    Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Muliardi,

    LANCANGKUNING.COM,Pekanbaru-Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Riau, Muliardi, menegaskan bahwa Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga, melainkan sarana pembinaan diri untuk menumbuhkan kesadaran sebagai khalifah fil ardhi. Manusia, kata dia, adalah pemimpin di muka bumi yang diberi amanah oleh Allah SWT untuk menjaga dan melestarikan alam semesta.

    Hal itu disampaikannya saat memberikan tausiyah Ramadan di Masjid Raya An Nur dengan tema “Ekoteologi Ramadan: Iman yang Menjaga Lingkungan dan Sosial.” Dalam ceramahnya, ia mengajak umat Islam memaknai puasa secara lebih luas, tidak hanya sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai momentum transformasi diri.

    “Di bulan Ramadan, kita bukan hanya dilatih menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membentuk pribadi yang memiliki kesadaran sebagai khalifah di bumi, yang diberi amanah untuk menjaga dan melestarikan alam,” ujarnya.

    Menurut Muliardi, nilai ibadah puasa seharusnya tercermin dalam sikap dan perilaku yang menghadirkan kemaslahatan, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Ia mengingatkan agar umat tidak merusak bumi yang telah diciptakan Allah SWT dengan sempurna.

    Pesan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 56 yang melarang manusia berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya. Ayat itu menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan.

    Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa puasa mengajarkan pola hidup sederhana, pengendalian hawa nafsu, serta menjauhi sikap boros dan mubazir. Mengurangi konsumsi berlebihan, menghindari pemborosan makanan saat sahur dan berbuka, serta menggunakan air dan energi secara bijak merupakan wujud nyata pengamalan nilai puasa dalam konteks kepedulian ekologis.

    Muliardi juga menyinggung berbagai bencana alam yang terjadi belakangan ini sebagai refleksi atas perilaku manusia terhadap lingkungan. Penebangan liar, pembuangan sampah sembarangan, dan pembangunan yang mengabaikan keseimbangan ekosistem dinilai menjadi faktor penyebab banjir dan longsor.

    “Momentum Ramadan mengingatkan kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Puasa mengajarkan kita menahan diri dari segala tindakan yang merugikan, termasuk merusak alam. Mari mulai dari hal kecil, seperti membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik, dan menanam pohon,” pungkasnya.

    Melalui tausiyah tersebut, diharapkan nilai-nilai Ramadan tidak berhenti pada aspek ritual semata, melainkan terimplementasi dalam kepedulian sosial dan ekologis sebagai wujud nyata keimanan.(rie/MCR)

    Bagikan Artikel

    data.label
    data.label
    data.label
    data.label
    Beri penilaian untuk artikel Ekoteologi Ramadan di Masjid Raya An Nur: Muliardi Ajak Umat Jadi Khalifah yang Menjaga Bumi
    Sangat Suka

    0%

    Suka

    0%

    Terinspirasi

    0%

    Tidak Peduli

    0%

    Marah

    0%

    Komentar

    Berita Terkait