Daftar Isi

Foto: Rapat Pemantapan Kegiatan CFN Desa Senggoro Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis
Lancang Kuning, BENGKALIS - Dalam upaya mengangkat nilai nilai sejarah Desa Senggoro Kecamatan Bengkalis Kabupaten Bengkalis Riau, pemuda dan pemudi empat dusun di Desa Senggoro sepakat melaksanakan kegiatan Car Free Night (CFN) pada Sabtu (22/10/2022) malam minggu mendatang.
Muhammad Gunawan yang ditetapkan sebagai ketua panitia CFN Desa Senggoro mengatakan tema CFN yang di gelar adalah Senggoro Tempo Dulu dengan tujuan mengangkat nilai - nilai sejarah juga untuk meningkatkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di Kecamatan Bengkalis dan sekitarnya serta silaturahmi antar pemuda.
“Adapun tujuan kegiatan CFN yang kami gelar adalah untuk mengangkat nilai sejarah Desa Senggoro dimana desa kami merupakan desa tertua di Kecamatan Bengkalis. Selain itu juga dengan melibatkan UMKM kami harap geliat usaha di bengkalis dan sekitarnya semakin bertumbuh dan ekonomi masyarakat semakin baik, dan kegiatan CFN ini kami laksanakan malam minggu dengan melibatkan pemuda, Pemdes ,karang taruna, Bumdes bahkan Pemkab dan juga dukungan dari Genpi Bengkalis,” ucap Igun Panjera sapaan akrabnya Muhammad Gunawan.
Sementara itu, Ketua Genpi Bengkalis Muhammad Rahim sangat mendukung penuh kegiatan yang di laksanakan pemuda pemudi yang ada di Kabupaten Bengkalis khsususnya di Pulau Bengkalis.
“Kami sangat mendukung penuh kegiatan CFN yang dilaksankan pemuda Desa Senggoro ini, dimana pun kegiatan CFN dilaksanakan kami akan turut membantu dan mengerahkan anggota untuk Bersama sama mensukseskan kegiatan yang di gelar,” ucap Muhammad Rahim yang juga lebih dikenal dengan panggilan Adek Kembo ini.
Selain menyajikan UMKM dan kuliner juga akan dimeriahkan dengan penampilan live music, photoboth dan juga komunitas yang ada di Kota Bengkalis, panitia juga nantinya akan berkostum tempo dulu sesuai tema senggoro tempo dulu.
Untuk diketahui salah satu sejarah Desa Senggoro yang cukup dikenal adalah makam dara Sembilan, dahulunya merupakan sebuah benteng batin hitam (senggoro). Sekitar tahun 1512, Bengkalis ternyata sudah ada, bahkan dapat dikaitkan dengan zaman prasejarah.
Pulau Bengkalis sejak dahulu telah dihuni oleh manusia, dengan pola kehidupan yang sangat tradisional, dan telah memiliki tatanan pemerintahan yaitu dalam bentuk perbatinan (pemerintahan), terutama perbatinan orang-orang suku asli dan perbatinan senggoro di senggoro dan batin alam di sungai alam, batin penebal di penebal, batin senderak di senderak, batin kembung di kembung, batin bengkalis di bengkalis, batin putih di ketam putih.
Perbatinan di bawah pimpinan batin hitam (batin senggoro) mereka telah mengatur strategi dan taktik mempertahankan daerahnya dengan membangun benteng-benteng yang sampai saat ini dikenal dengan nama
Benteng batin hitam (batin senggoro)
Benteng batin hitam, dahulunya dilengkapinya dengan meriam-meriam yang terpasang dan siap untuk ditembakkan terhadap para musuh atau lanun yang akan mengganggu ketentraman kampung bengkalis.
Sedangkan kuburan dara sembilan merupakan benteng khusus untuk melindungi para dara jelita (gadis) kampong bengkalis dari serangan portugis dan lanun yang suka memaksa atau menculik para dara/gadis. Dari itu batin hitam membangun benteng tempat persembunyian para gadis/dara yang letaknya lebih kurang 75 meter dari benteng batin hitam.
Kematian dara/gadis sebanyak sembilan orang itu bermula dari kejadian kerusuhan yang dilakukan oleh portugis atau lanun. Sembilan orang gadis atau dara disembunyikan di dalam benteng tersebut yang kunci rahasianya berada dibagian luar, sedangkan juru kuncinya melakukan perlawanan menyerang portugis atau lanun.
Serangan portugis atau lanun mengakibatkan benteng itu roboh dan menutupi tempat kunci rahasia, sehingga pintu persembunyian tidak bisa dibuka dan menyebabkan sembilan dara atau gadis terkubur dibenteng itu dan tidak tertolong. mereka meninggal secara bersama di dalam benteng itu, sampai sekarang benteng itu disebut makam dara sembilan.
Namun dengan kerja keras batin hitam dan kawan-kawan yang belum tergoyahkan menghasilkan kemenangan yang membuat para lanun mundur mengakui kekalahannya.
Sumber sejarah lainnya mengatakan bahwa yang memegang kunci pintu benteng batin hitam adalah ayah dari sembilan dara yang terkunci di dalam benteng itu, dan ada juga yang mengatakan bahwa ke sembilan dara itu bukan adik beradik melainkan dara-dara yang ada pada masa itu. (LK/Fz)







Komentar