Daftar Isi

Foto: Grup Band Tepak Squad Kampar. (Dok. Ist)
Lancang Kuning, KAMPAR - Di tengah derasnya arus modernisasi, sekelompok anak muda dari Kabupaten Kampar justru tergerak untuk melestarikan dan memperkenalkan budaya daerah.
Mereka tergabung dalam Tepak Squad, sebuah grup band yang unik karena memadukan unsur musik etnik tradisional dengan aransemen modern.
Dedikasi ini terungkap dalam sebuah gelar wicara (talkshow) di Radio Swara Kampar yang dipandu oleh Ari Amrizal pada Rabu (14/10/2026). Salah satu pendiri sekaligus pencipta lagu Tepak Squad, Mido Pulma Deslala, yang hadir didampingi Riski Akbar, menjelaskan bahwa kekayaan budaya Kampar menjadi inspirasi utama mereka.
“Ternyata Kampar kaya akan budaya dan tradisi. Kami tergerak untuk mengangkat hal tersebut agar generasi muda tidak kehilangan jati diri dan lebih mengenal daerahnya. Karena latar belakang kami adalah musik, maka kami memilih jalur ini sebagai media pelestarian,” ungkap pria yang akrab disapa Mido tersebut.
Berdiri sejak tahun 2020, band yang digawangi oleh 13 personel utama—serta dibantu sejumlah personel tambahan—ini memilih nama "Tepak" bukan tanpa alasan.
Menurut Mido, kata tersebut bermakna 'wadah' yang juga menjadi lambang penghormatan, sebuah filosofi yang sangat lekat dengan adat istiadat Kampar.
Karya yang Saling Berkaitan dan Sarat Riset
Karya-karya yang dilahirkan oleh Tepak Squad memiliki keunikan tersendiri. Setiap single yang dirilis dirancang agar memiliki benang merah yang saling terhubung satu sama lain.
Beberapa karya yang telah mereka rilis antara lain Lawik Ombun Tanah Batuah yang bercerita tentang keindahan negeri Kampar secara umum, Titisan Bumi Syurga (Kuaghan), hingga single religi Marhaban ya Ramadhan.
Lagu religi tersebut secara khusus mengangkat tradisi masyarakat Kampar dalam menyambut bulan puasa hingga pasca-Ramadan, seperti tradisi Ayo Onam.
Mido menekankan bahwa proses penciptaan lagu-lagu ini tidak instan dan memakan waktu yang cukup lama. Hal ini dikarenakan mereka melakukan riset mendalam, termasuk mewawancarai para tetua dan tokoh adat yang paham betul tentang sejarah budaya Kampar.
Mengangkat Mitos Burung Kuaghan
Salah satu contoh nyata dari riset mendalam tersebut adalah saat penggarapan lagu Titisan Bumi Syurga (Kuaghan). Mido, yang sebelumnya pernah tergabung dalam band Teorema Pitagoras, mengungkapkan bahwa mereka bahkan memasukkan mantra asli yang digunakan masyarakat zaman dahulu untuk mencari burung endemik Kampar tersebut.
"Pembuatan lagu ini menghabiskan waktu yang cukup lama. Kami memasukkan mantra pencarian burung unik ini karena memang tidak semua orang bisa mendapatkannya," paparnya.
Mido juga memaparkan keistimewaan mitos Burung Kuaghan tersebut, mulai dari bangkainya yang diyakini tidak berbau hingga dipercaya tidak memiliki jenis kelamin.
Bagi masyarakat yang penasaran dan ingin menyaksikan langsung perpaduan magis antara musik modern dan tradisi dari Tepak Squad, grup ini akan segera menggelar konser tunggal di Pekanbaru. Konser tersebut dijadwalkan berlangsung di Anjung Seni Idrus Tintin pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026. (LK/Rls)







Komentar