Daftar Isi

Ilustrasi peswat tempur AS (ft:cnbcindonesia)
LANCANGKUNING.COM,Jakarta- Amerika Serikat (AS) meningkatkan kehadiran militernya secara signifikan di sekitar Iran dengan mengerahkan lebih dari 150 unit pesawat ke sejumlah pangkalan di Eropa dan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan setelah putaran kedua perundingan nuklir antara Washington dan Teheran pada 17 Februari berakhir tanpa terobosan berarti.
Berdasarkan data pelacakan penerbangan dan citra satelit yang ditinjau The Washington Post, peningkatan kekuatan tersebut menjadikan kehadiran militer AS di kawasan berada pada salah satu level terbesar dalam lebih dari dua dekade, bahkan disebut melampaui situasi sebelum Perang Irak pada 2003.
Langkah ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan Presiden AS Donald Trump terhadap Iran terkait program nuklirnya. Pemerintahan Trump disebut tengah menyiapkan berbagai skenario, mulai dari langkah diplomatik lanjutan hingga opsi militer terbatas.
“Tingkat kekuatan besar yang dikumpulkan berarti militer AS dapat melaksanakan apa pun yang diputuskan Trump, mulai dari kampanye berkelanjutan dan sangat kinetik hingga serangan yang lebih terarah dan terbatas,” ujar mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan AS untuk Timur Tengah, Dana Stroul, seperti dikutip The Washington Post, Rabu (25/2/2026).
Sejumlah analis menilai pengerahan kali ini melampaui peningkatan militer yang terlihat sebelum serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada Juni tahun lalu. Aset yang dikumpulkan dinilai menunjukkan kesiapan untuk melancarkan kampanye udara intensif selama beberapa hari tanpa melibatkan invasi darat.
Meski demikian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), Mark Cancian, mengingatkan bahwa kampanye udara berkepanjangan selama berminggu-minggu akan membutuhkan tambahan aset militer dalam jumlah besar. Hal itu, menurut dia, berpotensi menimbulkan beban logistik dan politik yang tidak kecil bagi Washington.
Di lapangan, puluhan pesawat tambahan kini berada di atas kapal induk USS Gerald R. Ford yang terpantau berada di perairan dekat Pulau Kreta, Yunani. Kapal induk tersebut menjadi kapal induk kedua yang dikirim ke kawasan Timur Tengah dalam waktu bersamaan—situasi yang relatif jarang terjadi dan mencerminkan eskalasi kesiapan militer AS.
Secara keseluruhan, Washington kini memiliki lebih dari selusin kapal perang di kawasan Timur Tengah, termasuk satu kapal induk, sembilan kapal perusak, dan tiga kapal tempur pesisir. Kehadiran dua kapal induk sekaligus di kawasan itu dipandang sebagai sinyal kuat bahwa AS tengah menyiapkan berbagai opsi militer di tengah ketegangan yang terus meningkat dengan Iran.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Teheran terkait peningkatan signifikan kekuatan militer AS tersebut. Namun, dinamika terbaru ini menambah ketidakpastian di kawasan yang selama ini menjadi salah satu titik panas geopolitik dunia.(cnbcindonesia/rie)







Komentar