Daftar Isi
.jpg)
tokoh masyarakat Desa Rantau Baru, Syekh Abdul Gani menceritakan tentang sejarah Desa Rantau Baru yang dan kisah ulama-ulama dari desa ini.
LANCANGKUNING.COM,PELALAWAN- Ada sebuah ungkapan yang telah menjadi pameo di Kabupaten Pelalawan tentang kedaerahan dan bagaimana daerah melahirkan tokoh dan ciri khas dari daerah tersebut.
Ungkapan ini diantaranya, Kalau ingin menjadi Pejabat, tinggalah di Pelalawan. Kalau ingin menjadi pengusaha tinggalah di Kuala Terusan.
"Namun jika ingin menjadi Ulama tinggalah di Rantau Baru. Sebab Rantau Baru telah banyak melahirkan ulama-ulama yang hingga kini bahkan dipercaya menjadi imam di sejumlah Masjid Raya di Kampar dan Pelalawan, ujar Datuk DR H Griven H. Putra M.Ag salah satu Ketua di Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau dalam acara silaturahmi bersama masyarakat Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Senin malam (19/6/2023).
Putera kelahiran Desa Rantau Baru ini juga dalam juga meperkenalkan tokoh masyarakat Desa Rantau Baru, Syekh Abdul Gani Dukut yang lebih banyak mengetahui histori dan sejarah dari Desa Rantau Baru yang banyak melahirkan ulama-ulama dari Desa di tepian Sungai Kampar ini
Ulama-ulama ini juga memiliki karomah. Sebut saja Syekh Haji Muhammad Aris yang wafat pada tahun 1923 yang dimakamkan di pemakaman desa Melako Kecik.
Diceritakan Syech Abdul Gani Dukut, Syech Haji Muhammad Harris merupakan ahli tasawuf dari tarikat naksabandyah.
"Pernah pada suatu ketika disaat komunikasi masih sangat terbatas menjelang bulan Ramadhan. Dalam sebuah majelis di Masjid, beliau menyebutkan besok sudah masuk 1 Ramadhan. Saat itu belum ada teknologi yang bisa melihat anak bulan, tanda bulan baru telah masuk. Namun, dengan kearifan yang beliau miliki, dan ilmu yang dipunyai. Beliau dapat menjelaskan kapan jatuhnya 1 Ramadhan," ujar Syech Abdul Gani mengisahkan.
Syech Abdul Gani juga memaparkan, sejarah Desa Rantau Baru telah bermula sejak 300 tahun yg silam atau bahkan mungkin lebih.
"Sebelum ini menjadi sebuah kampung, ada ditemukan kayu disini disebut dengan nama kayu baru-baru. Saat itu sendiri juga sudah ada beberapa keluarga, dan menetap di daerah yang disebut Melaka Kecik. Karena daerah ini dilanda Wabah, kemudian sebagian warga kampung ini pindah ke daerah yang disebut Rantau Baru. Disinilah mereka membuat peladangan, masyarakat disini juga memiliki mata pencarian sebagai nelayan. Saat itu sebutan daerah ini dari antau baghu-baghu disempurnakan menjadi Rantau Baru," sebut Syech Abdul Gani.
Pada masa itu, alam juga memberikan sumber mata pencarian bagi masyarakat. Diantaranya Sungai Boko Boko dan Danau Sepunjung. Di dua kawasan ini ikan melimpah ruah, yang mencukupi kebutuhan masyarakat.
Setelah kampung dibangun, kemudian juga dibangun Masjid. Pada saat itulah muncul, seorang ulama Syekh Muhammad Aris yang diceritakan sebelumnya.
"Syech Haji Muhammad Harris ini berteman dengan Ungku Mudo Sangkal, pendiri Masjid Jamik Air Tiris. Ungku Mudo Sangkal juga memiliki karomah. Pernah terjadi pada masa Belanda. Kala itu, Belanda menyediakan makanan di sebuah rumah. Saat itu bulan Puasa. Di depan rumah ini tentara Belanda memegang green (senjata api,red) dan memaksa seluruh orang yang dikumpulkan untuk menyantap hidangan ini. Hanya Ungku Mudo Sangkal yang menolak meski diancam dengan senjata api. Beliau memiliki keberanian yang membuat Belanda takut," ujar Syech Abdul Gani Dukut.
Syekh Haji Muhammad Aris meninggal pada tahun 1923 dimakamkan di tapak pekuburan Melaka Kecik.
Di pemakaman ini juga dimakamkan Mursyid Tariqat Nagsyabandiyah Syekh H Abdureahman Thahir dan kakak perempuan dari Syekh Abduk Gani Dukut.
Di daerah yang berjarak lebih kurang empat kilometer dari Desa Rantau Baru dengan cara menyusuri Sungai Kampar dengan pompong dan perahu mesin telah menjadi Tempat pemakaman bagi masyarakat Desa Rantau Baru.
Ulama lain yang juga dikisahkan Syekh Abdul Gani Dukut adalah
ulama dari Pulau Godang, bernama Syech Jaffar. "Beliau telah mendatangi daerah-daerah di Kampar dan Pelalawan, Gunung Sahilan, Kapar Kiri, Air Tiris dan daerah-daerah lainnya. "Beliau akhirnya sampai di Desa Rantau Baru dan menikah dengan kakak saya," kata Syekh Abdul Gani.(rie)







Komentar