Kehidupan Suku Dayak Di Lamandau

Daftar Isi

    LancangKuning.com - Suku dayak Lamandau  menggunakan busana dari kulit kayu, dan ada enam orang penari yang mengenakan pernak pernik di topinya seperti bulu-bulu dari burung enggan replika paruh panjangnya, dan pada saat tamu datang suu dayak pun menyambutnya.

    Diiringi suara gendang,  alat tradisional garantung dan gong dan diiring alat musik lainnya, sehingga penari tersebut semakin lincah geraknya, bahkan para penari tetap melanjutkan tariannya walaupun hujan deras.

    Dan begitulah kehidupan suku dayak Lamandau  di Desa Lopus, Kecamatan Delang. Tengah menyambut rombongan tamunya. Tetapi ini baru tahap permulaan, dan ada tradisi potongan-potongan kayu bambu melintang yang akan dilakukan oleh rombongan tamu dari dalam maupun di luar negeri.

    Salah satu satu suku dayak Lamandau  memiliki ‘‘Kepala’’ Suku Adat dengan menggunakan bahasa setempat. Kepala suku menanyakan dengan bahasa setempatnya apa maksud dari kedatangan rombongan tamu tersebut, dan harus memberi penjelasan yang jelas agar suku dayak bisa menerima maksud dari kedatangan rombongan, setelah penjelasan itu sudah jelas, perwakilan dari tamu tersebut harus memotong kayu-kayu yang melintang.

    Ritual memotong kayu tersebut dinamakan dengan Garung Pantan. Dan ritual yang sama para rombongan tamu tersebut harus menjalankan tradisi saat berada di kampung Dayak lainnya, di kabupaten Lamandau  ini, para tamu harus menyelesaikan tradisi ini. dialami para tamu itu sehari kemudian, ketika berkunjung ke suku Dayak di Kelurahan Tapin Bini Kecamatan Lamandau .

    Tamu itu ibaratkan Raja, mereka yang berkujung ke Lamandau  ini tempt tinggalnya ad yang dari luar negeri maupun dalam negeri, mereka yang datang dari Italia, Belanda, Singapura, Jakarta, Amerika, Korea, dan beberapa kota yang ada di Indonesia pun hadir dalam mengunjungi wisata Lamandau , Tanjung Puting yang diiniasiasi Swiss Contact dan dan Dinas Pariwisata Lamandau .

    Para rombongan tamu yang ada di Lamandau  Kalimantan Tengah ini harus wajib mengikuti baigal atau tarian menari di acara bagondang.

    Namum, perlakuan suku Dayak ini adalah perlakuan yang istemewa bukan hanya semata-mata keistimewaan rombongan tersebut, Lopus Dan Tapin Bini adalah merupakan tempat wisata terbaru, yang dalam dua tahun terakhir mulai bisa melakukan penerimaan wisatawan.

    Suku Dayak Lamandau  ini lebih kurang dari 120 pengunjung wisatawan sejak tahun lalu desa lopus. Dan pengunjung tersebut melakukan pariwisata di destinasi Tanjung Puting.

    Dari kedua pelosok masyarkat kalimantan tengah ini memperlihatkan aksi pertunjukan tradisi tradisionalnya, dan kehidupan suku Dayak dan lingkungan kehidupannya yang masih alami. Para wisatawan bisa melihat nyata bagaimana kehidupan nyata dari suku Dayak Lamandau  dan nyata alamnya itu.

    Para rombongan terebut harus menerima minuman berupa tuak manis dalam sepotong. Di Tapin Bini, meminum tuak manis ini juga disajikan di dalam tanduk kerbau.

    Dan mereka diperlihatkan secara langsung bagaimana caranya proses mengupas kulit kayu, dan menjadikannya sebagai  bahan untuk pembuatan pakaian suku dayak, ikat kepala serta topi tradisional yang dinamakan dengan lawung.

    Menyaksikan kegiatan mereka lebih dekat, dan para tamu wisatawan tidak hanyalah sebagai penonton dan sebagai tamu spesial. Para tamu tersebut bahkan harus ikut serta ritualtongan dan bagondang.

    Tonggang ini adalah pemasangan ikat gelang yang terbuat dari akar kayu tongang dan dipasang ke para tamu, yang langsung dipakaikan oleh kepala suku. Pada tongang tersebut  teradapat ikatan dari daun sangkuba. Atau mata gelangnya.

    Pada upacara ini, para tamu-tamu tersebut didudukkan di sebuah garantung atau dinamakan alat tradisional dan latar belakang ada sebuah guci besar peninggalan leluhur.

    Jadi maksud dari duduknya para tamu di garantung agar memiliki makna kata dari “ berdiri sama tinggi duduk sama rendah,” dan begitulah kehidupan ala suku Lamandau.(Nanda)

    Bagikan Artikel

    data.label
    data.label
    data.label
    data.label
    Beri penilaian untuk artikel Kehidupan Suku Dayak Di Lamandau
    Sangat Suka

    0%

    Suka

    0%

    Terinspirasi

    0%

    Tidak Peduli

    0%

    Marah

    0%

    Komentar