Daftar Isi

Profesor Ir Musliar Kasim dalam acara Riau Edutech Campus Summit 2026.(ft: ria-lancangkuning.com)
LANCANGKUNING.COM,Pekanbaru-Mengejar Ketertinggalan Pendidikan Tinggi Indonesia Pendidikan adalah kunci utama pembangunan bangsa.
"Namun, jika melihat kondisi pendidikan tinggi Indonesia saat ini, kita masih menghadapi tantangan besar, khususnya dalam hal jumlah sumber daya manusia lulusan bergelar doktoral atau yang tamatan S3," ujar Prof Ir Musliar Kasim dalam talkshow Riau Edutech Campus Summit 2026 yang dilaksanakan di Gelanggang Remaja, Jalan Sudirman, Pekanbaru, Kamis (8/1/2026)
Pada tahun 2012 dalam pertemuan di Bappenas, dikatakan Prof Musliar Kasim jumlah Doktoral, atau tamatan S3 sekitar 26.000 orang. Angka yang belum bisa menopang kebutuhan pembangunan nasional."Angka ini masih sangat kecil dibandingkan dengan negara-negara lain," ujarnya.
Dalam diskusi pendidikan di Bappenas itu, akhirnya diambil kesimpulan bahwa perlu adanya proyeksi tahun 2045 mendatang, Indonesia sudah memiliki lebih dari 100.000 dosen dan pendidik memiliki gelar doktoral. "Artinya, diperlukan percepatan serius agar jumlah doktor di Indonesia dapat meningkat secara signifikan untuk mencapai pendidikan di negara-negara maju. Jika dibandingkan dengan negara lain, kesenjangan ini semakin terlihat.
Hingga tahun 2024,dari Kementerian Dalam Negeri. Indonesia memiliki sekitar 69.209 lulusan program doktor (S3), yang setara dengan rasio 143 doktor per satu juta penduduk. Dari sekitar 303.000 dosen di Indonesia pada awal 2025, hanya sekitar 25 persen yang bergelar doktor, dengan Jawa Barat menjadi provinsi dengan lulusan S3 terbanyak.
"Jika dibandingkan dengan China, mereka telah memiliki sekitar 400.000 doktor. Keunggulan tersebut tidak lepas dari sistem pendidikan tinggi mereka yang maju dan terintegrasi. Bahkan, banyak universitas di China berhasil menembus 10 besar perguruan tinggi terbaik dunia. Sementara itu, universitas di Indonesia masih berada pada kisaran 100 besar dunia, dengan nama-nama seperti ITB dan UI," ungkap mantan Rektor Universitas Andalas yang saat ini diberikan amanah menjabat Universitas Baiturrahman, Padang.
Meski demikian, dikatakan Prof Musliar Kasim, peluang pendidikan tinggi di Indonesia sebenarnya semakin terbuka.
Selain itu dihadapan siswa siswi SMA dan SLTA dari se-provinsi Riau yang hadir di Riau Educated Campus Summit 2026 ini, Profesor Musliar Kasim mengingatkan, bahwa bagi yang tamatan SMA klas 12 tahun tidak perlu berkecil hati jika tidak diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Mengingat, saat ini banyak Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang telah berkembang pesat dan memiliki kualitas pendidikan yang tidak kalah baik. Lulusan PTS pun kini semakin diakui di dunia kerja.
"Yang terpenting, tidak ada alasan bagi generasi muda untuk berhenti sekolah. Jika kendala utama adalah biaya, berbagai program beasiswa dari pemerintah, perguruan tinggi, maupun lembaga swasta tersedia dan terus diperluas. Akses pendidikan semakin inklusif, asalkan ada kemauan dan tekad untuk belajar," pungkasnya.(rie)







Komentar