Daftar Isi

Foto: Demonstrasi petani dan mahasiswa di depan kantor Bupati Inhil, Tembilahan. (Dok. Hariadi)
Lancang Kuning, INHIL - Ratusan mahasiswa bersama petani yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bersama Masyarakat [AMBAR] menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Indragiri Hilir, Senin (10/8/2026).
Aksi ini digelar sebagai bentuk keresahan terhadap rendahnya harga kelapa yang terus membebani petani. Sebagai salah satu daerah penghasil kelapa terbesar, fluktuasi harga komoditas ini sangat menentukan roda ekonomi masyarakat Inhil.
Massa menegaskan, persoalan kelapa tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan harga pasar. Dibutuhkan kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan, kepastian, dan keadilan bagi petani kelapa.

Dalam aksi tersebut, AMBAR menyampaikan 4 tuntutan utama kepada Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir:
1. Memperjuangkan kenaikan harga kelapa* di tingkat petani agar layak dan sesuai biaya produksi.
2. Membenahi tata niaga kelapa* untuk memutus rantai perdagangan yang merugikan petani.
3. Membentuk dan memperkuat organisasi petani kelapa yang benar-benar berbasis petani.
4. Membangun sistem informasi harga kelapa yang terbuka, akurat, dan mudah diakses petani.

Koordinator Lapangan Aksi, Rahmat menegaskan kehadiran mahasiswa adalah untuk menyuarakan keresahan petani, bukan mencari keributan.
“Kami hadir membawa suara masyarakat dan petani. Persoalan kelapa bukan persoalan satu atau dua orang, tetapi persoalan masyarakat Inhil. Kami meminta pemerintah tidak hanya mendengar, tetapi juga menghadirkan langkah nyata,” tegas Rahmat.
Aksi ini juga menjadi ruang dialog antara mahasiswa, masyarakat, dan perwakilan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir. Massa berharap 4 tuntutan yang disampaikan dapat segera ditindaklanjuti secara konkret dan tidak berhenti pada janji atau sebatas pertemuan.
Bagi masyarakat Inhil, kelapa bukan sekadar komoditas. Kelapa adalah sumber penghidupan. Karena itu, perjuangan harga dan tata niaga kelapa merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan ekonomi petani. (LK)







Komentar