LIPI: Vaksin Rusia Picu Sedikit Antibodi untuk Tangkal Corona

Daftar Isi

    Lancang Kuning - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengatakan vaksin covid-19 Rusia Sputnik V memiliki tingkat antibodi penetralisir virus corona SARS-CoV-2 yang cukup rendah meski diklaim mampu memicu respons antibodi.

    Tingkat antibodi penetral cukup rendah dipaparkan dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet. Tingkat antibodi ini rendah dibandingkan dengan uji coba vaksin lain yang diterbitkan. Begitu juga respons sel T (T cell) yang minim meski vaksin juga memicu respons sel T.

    "Berdasarkan sebuah studi uji klinis tahap I/II yang sudah dilaporkan, vaksin tersebut memang mampu memicu terbentuknya antibodi yang dapat menetralisir virus dalam jumlah yang minimal," ujar Wien saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (8/9).

    Akan tetapi, Wien juga menyinggung bahwa para peneliti independen kesulitan untuk membandingkan hasil respon imun dari berbagai vaksin Covid-19. 

    Tiap kelompok penelitian mungkin menggunakan metode uji yang berbeda dalam mengukur konsentrasi antibodi, termasuk antibodi penetralisir virus. Terdapat pula perbedaan level antibodi dalam plasma konvalesen digunakan sebagai acuan.

    Oleh karena itu, Wien menambahkan uji klinis tahap I dan II harus diikuti dengan tahap III untuk membuktikan secara gamblang terkait kemanjuran dan keamanan vaksin. 

    Untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas kombinasi kedua vaksin tersebut dalam mencegah penyakit Covid-19, tetap harus dilakukan uji klinis tahap III.

    "Karena itu hasil uji klinis tahap I/II tidak banyak berarti tanpa diikuti oleh uji klinis tahap III terhadap ribuan relawan yang berupaya mengevaluasi secara gamblang efektivitas dan keamanan vaksin," kata Wien.

    Wien mengungkap nyatanya peneliti di Rusia menetapkan ambang batas yang tinggi untuk uji netralisasi. Dosis virus yang digunakan tinggi dan tidak diperbolehkan timbulnya kerusakan sel akibat infeksi virus.

    Dengan ambang batas yang tinggi, hal tersebut sesungguhnya meningkatkan risiko kegagalan yang lebih besar. Beruntung, kegagalan itu tidak terjadi.

    "Sebetulnya mereka mengambil risiko yang besar dalam hal ini terkait kemungkinan vaksin tersebut gagal dalam pengujian. Namun tidak demikian yang terjadi," ujar Wien.

    Wien menjelaskan ada satu keunggulan yang patut disoroti dari vaksin Sputnik V. Mereka menggunakan dua bentuk sediaan vaksin, yaitu vaksin yang dibekukan dan vaksin yang diliofilisasi (dikeringbekukan). Vaksin yang dikeringbekukan disebut Wien lebih stabil dan menjaga kemanjuran vaksin meski biayanya lebih tinggi.

    "Vaksin yang dikeringbekukan lebih stabil dalam penyimpanan pada suhu rendah dibandingkan vaksin yang dibekukan. Meskipun biayanya akan lebih tinggi, dengan membuat sediaan vaksin yang lebih stabil, efektivitas vaksin dapat lebih terjaga, terutama untuk penggunaan vaksin di daerah terpencil," tutur Wien.

    Bagikan Artikel

    data.label
    data.label
    data.label
    data.label
    Beri penilaian untuk artikel LIPI: Vaksin Rusia Picu Sedikit Antibodi untuk Tangkal Corona
    Sangat Suka

    0%

    Suka

    0%

    Terinspirasi

    0%

    Tidak Peduli

    0%

    Marah

    0%

    Komentar