Bangunan Literasi dan Toleransi, Komentar Soal UAS

Daftar Isi

    LancangKuning.com - Mengapa kita perlu bertoleransi dan saling memahami? Karena yang diucapkan dan dilakukan itu berdasarkan bangunan literasi yang utuh. Darimana kita tahu hal tersebut berdasarkan bangunan literasi yang utuh? Tentunya, dari penjelasan para ahli dan pakar yang terpercaya yang telah menginformasikan hal itu kepada manusia, sehingga manusia tahu dan merasakan.

    Setiap agama memiliki sumber pengetahuan yang diyakininya. Di dalam Islam, kami menyadari bahwa Al-Quran dan al-hadits adalah sumber pengetahuan utama yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Kemudian, para ilmuwan muslim membaca, memahami, mendalami, menafsirkan kedua sumber tersebut untuk memudahkan manusia dalam mengamalkan pesan-pesan tekstual yang termuat di dalamnya. Lalu lahirlah bidang-bidang keilmuan dalam Islam, tergambarlah silsilah keilmuan, muncullah mazhab-mazhab dalam Islam.

    Apakah para ulama juga berbeda pandangan dalam memahami teks-teks Al-Quran dan al-Hadits?  Ya, karena latar belakang mereka juga berbeda, meliputi: tingkat keilmuan, dan lingkungan. Namun, para ulama juga sudah menerangkan dengan terbaik bagaimana cara bersikap dalam menghadapi perbedaan yang bersifat al-tsawabit dan al-mutaghayyirat dalam Islam, sehingga umat Islam tahu bagaimana agar ukhuwah Islamiyyah dan atau ukhuwah insaniyyah tetap terus terjalin dengan baik. Dalam konteks berinteraksi bersama orang-orang yang berbeda dari sisi al-tsawabit sekali pun, Islam punya langkah-langkahnya, punya adab-adabnya, itulah edukasinya.

    Urusan menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan dan sikap di internal umat Islam sudah selesai. Dari mana tahunya? dari kekayaan literasi yang dimiliki umat Islam. Selama kita berpendapat dan bersikap berdasarkan literasi yang yang terpercaya, maka kita perlu bersikap saling memahami, seimbang dan saling bertoleransi.

    Tentunya pada level agama, perbedaan itu akan terlihat lebih besar. Terutama pada aspek tauhid dan iman. Para penganut agama diwajibkan beriman kepada ajaran keimanannya masing-masing, karena begitulah literasi masing-masing Agama mengajarkannya. Antar umat beragama juga perlu bertoleransi dan menjaga ukhuwah insaniyah dan wathaniyah, karena perbedaan-perbedaan itu bersumber dari bangunan literatur pada masing-masing Agama, bukan berdasarkan hawa nafsu. Jika berdasarkan hawa nafsu dan khayalan, maka itu adalah kebohongan.

    Bertoleransi terhadap kebohongan itu tidak boleh, kebohongan harus dibenarkan dan diluruskan berdasarkan literasi-literasi yang terpercaya dari masing-masing Agama. Bahkan saling mengingatkan dan menasehati antar agama juga boleh dilakukan ketika kebohongan literasi ini terjadi, karena mungkin saja ada orang yang sangat mengerti literasi agama-agama lainnya.

    Misalnya, dalam soal keimanan, kaum muslimin meyakini Allahu Ahad (QS 112:1) sementara kaum Kristiani meyakini Trinitas (Injil). Kaum Muslimin dan Kristiani harus saling bertoleransi tentang konsep Ketuhanan pada masing-masing Agama, karena Allahu Ahad dan Trinitas termaktub pada sumber literasi masing-masing Agama. Inilah makna Lakum Diinukum Waliyadiin! Masing-masing Agama harus mengajarkannya kepada seluruh pengikutnya. Misalnya lagi, dalam sumber al-Quran disebutkan bahwa Nabi Isa a.s itu tidak disalib, tetapi salah satu muridnya yang diserupakan dengan Isa, sementara Nabi Isa diangkat oleh Allah ke langit (QS. 4:157). Sementara dalam keyakinan Nasrani bahwa nabi Isa itu disalib (Injil). Lakum Diinukum waliyadiin! Apakah boleh dilakukan dialog keagamaan? Boleh saja, untuk melihat sisi-sisi persamaan dan perbedaan, lalu apa kontribusi kita terhadap persatuan dan Kemajuan Bangsa ke depan. Sehingga Bangsa ini kuat, kokoh dan utuh.

    Akhir-akhir ini, jamak membicarakan tentang sekelumit potongan ceramah UAS tentang salib menjawab pertanyaan jemaah pada 3 tahun lalu. Menurut hemat saya, UAS tidak sedang menistakan Agama tertentu. Karena isi yang disampaikan tidak bertentangan dengan bangunan literasi Islam soal sukanya jin pada patung dan berdiam padanya (lihat dalam fatwa Ibnu Taimiyyah). Dan UAS menyampaikannya dalam Mesjid yang hanya dihadiri oleh jemaah mesjid terkait. Maka, rakyat Indonesia perlu saling memahami dan menghargai atas perbedaan itu. Sama halnya, bila disebut orang-orang yang tidak sejalan dengan Yesus Kristus dengan Domba-domba yang tersesat. Umat Islam tidak perlu marah dan saling memahami saja karena begitulah al-Kitab mereka mengajarkannya.

    Namun, apabila pernyataan-pernyataan yang muncul tidak berdasarkan kepada literasi yang terpercaya pada masing-masing Agama, maka itu adalah kebohongan (tidak ditemukan dalam literasi yg mu’tamad dalam Islam dan tidak ada pula dalam literasi Nasrani). Kebohongan itu berdasarkan hawa nafsu dan khayalan semata. Kebohongan itu perlu diedukasi, diluruskan dengan cara-cara yang hikmah. Mari kita prioritaskan akal dan usaha kita untuk menyelesaikan masalah-masalah besar yang sedang dihadapi bangsa ini, seperti kemiskinan, kebodohan, korupsi, kesemerautan, dll

    Semoga penjelasan ini sedikit membantu kita! Merdeka.( J. Ardan Mardan)

    *(Dosen STIE Riau dan Sekretaris Organisasi Ikatan Alumni Al-Azhar Indonesia kantor Riau)

    Bagikan Artikel

    data.label
    data.label
    data.label
    data.label
    Beri penilaian untuk artikel Bangunan Literasi dan Toleransi, Komentar Soal UAS
    Sangat Suka

    0%

    Suka

    0%

    Terinspirasi

    0%

    Tidak Peduli

    0%

    Marah

    0%

    Komentar