Angkatan 16; Re-orientasi Gerakan Mahasiswa

Daftar Isi

    Ditulis Oleh : Andres Pransiska,

    Presiden Mahasiswa Universitas Riau

     

    "Dimanakah ketentraman bisa ditemukan diantara berjuta manusia. jika setiap genggam nasi yang masuk ke mulut harus dibayar dengan martabat mereka?? Akan teruskah dibiarkan sebuah bangsa yang pernah mengukir keluhuran, keagungan di  abad-abad lampaunya, merosot menjadi rombongan tukang catur, pencopet, pencuri, menghabiskan sisa sejarahnya seperti kawanan serigala, saling mengakali dan saling menelan??"

    Ku lihat di sudut-sudut kampus. Bangunan-bangunan itu menjadi saksi sunyi hilir-mudik dosen, kesibukan mahasiswa dan keramaian lomba. Dalam bangunan itulah tersimpan dinamika yang membuat kita merasa cemas. Informasi tentang perkuliahaan didengungkan dengan lantang. Seakan kiamat akan tiba secepat wisuda. Berkumpul banyak mahasiswa yang diburu kecemasan akan datangnya tugas akhir. Mereka dilatih untuk meyakini kepastian jadi sarjana melebihi kepastian hidupnya sendiri.

    Di sudut kampus, ruangan kampus hingga gedung disulap bak panggung hiburan. Semua pertunjukan dipamerkan, organisasi mahasiswa diperankan sebagai even organizer yang siap menerima pesanan apapun.

    Tak kulihat lagi, lingkaran-lingkaran intelektual yang menjadi penyalur hasrat keraguan dan kegelisahan atas ketidak pastiaan hidup. Tak ku dengar lagi kegaduhan dikusi-diskusi tempat bertukar ide dan gagasan.

    Jujur saya termenung melihat itu. Deretan mahasiswa duduk rapi tanpa bantahan. Potongan mereka hampir sama. Tatapan matanya, ucapan lisannya menjatuhkan titah; diamlah maka kamu akan mendapatkan pengetahuan. Seakan pengetahuan itu bisa menjadi dan menjelma dalam ruangan sunyi. Tak berisik dan tak bergerak.

    Dari diskusi ke diskusi, dari kelembagaan ke kelembagaan, dari warung kopi ke warung kopi. Hanya ku temukan helaan batin apatisnya mahasiswa. Hilangnya kejantanan yg sudah diwariskan turun menurun oleh para pendahulu kita. Permasalahannya tetap sama. Betapa mandulnya kita sekarang.

    Masa Kuliah 5 tahun, semakin sibuknya mahasiswa dengan Tugas Akhirnya dan di jadikannya sebuah organsisasi sebagi event organizir adalah bentuk reorientasinya gerakan mahasiswa hari ini. Kita seolah kehilangan arah untuk tempat melompat. Ini adalah Bentuk NKK/BKK model lama kemasan baru pada masa saat ini.

    Apakah suasana kuliah memang seperti itu???

    Kuajak kembali kedasawarsa 1940. Masa dimana sebuah bangsa sedang menjemput mimpinya. Masa dimana golongan mahasiswa mempunyai status istimewa. Bahkan tokoh tokoh muda sering bercerita pada masa itu:

    "Asrama itu merupakan tempat pelarian dari keluarga, menyediakan tempat tidur bagi mahasiswa yang terdampar di ibukota, merupakan forum forum bagi diskusi intens dan agak tertutup dan menjadi sebuah pusat solidaritas. Macam macam opini dikalangan pelajar atau mahasiswa berkisar pada hal dogmatis."

    Begitulah suasana pada masa itu, penuh gairah dan penuh ide dan gagasan. Meski mereka kuliah di kedokteran, hukum tapi keprihatinan mereka menyentuh soal kebangsaan dan kemanusiaan. Mereka dihadapkan pada pilihan sempit, takluk pada penguasa atau memilih untuk mengambil jalan sebagai patriot.

    Begitulah suasana ketika mahasiswa cukup disebut dengan seorang pemuda. Bahkan Amir Sjarifuddin pernah berpidato:

    "Hai pemuda, jika kamu memgang bedil di tangan kananmu Haruslah kamu memegang palu di tangan kirimu. Dan jika kamu memegang pedang di tangan kanan,  maka peganglah arit di tangan kiri!!"

    Mungkin agak seram dan brutal. Tapi begitulah organisasi pemuda yg cakap, bukan hanya dalam pengetahuan tapi kemampuan mengorganisir. Keberaniannya mekar karena kesadaran atas kedaulatan.

    Begitulah, sejarah itu bisa memberi sebuah kerangka moral dan imaginatif. Bahwa seorang anak muda tumbuh dengan cita cita besarnya, mempertahankan republik dengan kesadaran seorang pelajar.

    Zaman memang telah berubah, pedang dan bedil kini sudah lama tergantung usang ditempatnya. Karekteristik kepemimpinan juga telah berubah. Namun satu hal yang tak pernah berubah adalah penindasan, kesewenang- wenangan dan kesengsaraan rakyat miskin masih tetap ada si wajah republik ini.

    Bukanlah teori, tapi perubahan yg merubah dunia. Harus ada perlawanan, entah dengan cara apa, dan jangan sampau kita ditundukan olehnya.

    "Jangan kau kira bisa membela sesuatu, apalagi keadilan, kalah acuh tak acuh, biar sekecil-kecilnya pun. Jangan remehkan satu orang, apalagi dua, karena satu pribadi pun mengandung dirinya kemungkinan tanpa batas. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun?  Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jaih dikemudian hari" (Pramodeya Ananta Toer).

    Sebuah suara yg tak hendak mengutuk kesunyian. Suara yg ingin merebut pendengar. Suara ini bukan suara seekor serigala dan budak, ini adalah suara orang yg merdeka. Manusia merdeka yg selalu meminta pengalaman baru dan tak mau sedikitpun menyera pada keadaan.

    Bagikan Artikel

    data.label
    data.label
    data.label
    data.label
    Beri penilaian untuk artikel Angkatan 16; Re-orientasi Gerakan Mahasiswa
    Sangat Suka

    100%

    Suka

    0%

    Terinspirasi

    0%

    Tidak Peduli

    0%

    Marah

    0%

    Komentar